Salah Paham Makna Haji Akbar Untuk Umat Muslim

Istilah haji akbar sering kali kita dengar, terutama menjelang musim haji. Namun, ada salah kaprah yang cukup menyebar luas di kalangan masyarakat, yaitu anggapan bahwa haji akbar adalah ibadah haji yang bertepatan dengan hari Jumat. Artinya, wukuf [9 Dzulhijjah] itu bertepatan dengan hari Jumat. Lantas apakah benar klaim atau pemahaman ini?

Pandangan tentang Haji Akbar bertepat dengan hari Jumat perlu ditinjau ulang berdasarkan sumber-sumber otoritatif dalam Islam. Pasalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa itu tidak tepat.  

Di Indonesia, salah satu ulama yang telah meluruskan kesalahpahaman ini adalah Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, pakar hadis dan Guru Besar di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Dalam bukunya Mewaspadai Provokator Haji (2004), beliau menulis satu bab khusus berjudul Fadhilah/Keutamaan Haji Akbar, yang mengkritisi pemahaman keliru tersebut.

Menurut beliau, istilah haji akbar memang berasal dari Al-Qur’an, tepatnya Surah At-Taubah ayat 3:

وَأَذَانٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوْمَ ٱلْحَجِّ ٱلْأَكْبَرِ

“Dan (ini adalah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar…” (QS. At-Taubah: 3)

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “yaum al-hajj al-akbar”. Ada yang memaknainya sebagai hari Arafah (9 Dzulhijjah), ada pula yang memaknainya sebagai Yaum an-Nahr (10 Dzulhijjah). Bahkan sebagian lain mengartikan seluruh rangkaian kegiatan haji di Mina (mabit, melempar jumrah) sebagai bagian dari haji akbar.

Menurut Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah, lembaga fatwa resmi Mesir, dalam artikelnya Ma’na Yawm al-Hajj al-Akbar al-Waarid fi al-Qur’an wa al-Sunnah, beberapa riwayat dari Tabi’in seperti Mujahid menyebutkan bahwa haji akbar adalah haji qiran, dan haji ashghar adalah haji ifrad. Bahkan ada pula yang memaknainya secara umum: haji akbar adalah ibadah haji itu sendiri, sedangkan haji kecil adalah umrah.

Dengan kata lain, seluruh aktivitas wajib dan rukun dalam pelaksanaan ibadah haji setiap tahunnya, menurut kebanyakan ulama, itulah yang dimaksud dengan haji akbar. Maka, makna haji akbar tidak terbatas pada aspek waktu semata, melainkan keseluruhan ritual ibadah haji yang sempurna.

Lalu dari mana asal-usul klaim bahwa haji akbar adalah ketika hari Arafah jatuh pada hari Jumat? Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub, pandangan ini berasal dari sebuah riwayat yang menyebutkan:

أفضل الأيام يوم عرفة وإذا وافق يوم الجمعة فهو أفضل من سبعين حجة في غير يوم الجمعة

“Hari terbaik adalah hari Arafah, dan jika bertepatan dengan hari Jumat, maka itu lebih utama dari tujuh puluh kali haji selain pada hari Jumat.”

Namun, validitas riwayat ini diragukan. Ibn Hajar al-‘Asqalani, sebagaimana dikutip oleh al-Munawi dalam Fayd al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, menyebutkan bahwa riwayat ini berasal dari Hasan Razin bin Mu’awiyah dan tidak memiliki sanad yang dapat diverifikasi.

Ibn al-Qayyim, dalam Zad al-Ma’ad, juga mengkritisi riwayat ini. Ia menyebut bahwa tidak ada asal-usul yang kuat untuk menyandarkannya kepada Nabi, sahabat, atau tabi’in. Dengan kata lain, ini hanyalah pernyataan populer yang tidak memiliki dasar otentik dari sumber Islam yang sahih.

Hal senada disampaikan oleh al-Mubarakfuri, dalam syarahnya atas Sunan al-Tirmidzi, bahwa riwayat ini tidak berdasar dan menyebar di kalangan masyarakat awam. Oleh karena itu, klaim keutamaan haji pada hari Jumat atas dasar riwayat tersebut tidak bisa dijadikan sandaran hukum maupun dalil keutamaan.

Dengan demikian, semua haji yang dilakukan dengan memenuhi rukun dan syaratnya secara sempurna dapat disebut haji akbar, karena termasuk dalam makna umum yang dimaksud dalam Al-Qur’an. Yang penting bukanlah hari pelaksanaan wukuf, tetapi kesempurnaan dan keikhlasan ibadah itu sendiri.

Sebagaimana sabda Nabi dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya;“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, fokus utama dari ibadah haji adalah meraih kemabruran, bukan memperdebatkan waktu atau istilah yang belum tentu sahih sumbernya. Haji mabrur adalah hasil dari ketaatan, keikhlasan, dan kesungguhan dalam melaksanakan ibadah, sejak persiapan hingga kembali ke tanah

Related Posts

Dakwaan terhadap Ulama Islam Pasca-11 September Dibatalkan dengan Alasan Kebebasan Berbicara

Seorang cendekiawan Islam di Virginia yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2005 karena mendorong pengikutnya untuk bergabung dengan kelompok militan di luar negeri untuk berlatih melawan Amerika Serikat,…

CAIR Menuntut Tindakan Disiplin Terhadap Guru di Oregon yang Memposting Pernyataan Anti-Muslim dan Anti-Imigran

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi hak sipil dan advokasi Muslim terbesar di negara itu, hari ini menyerukan kepada pejabat sekolah Oregon untuk mengambil tindakan disiplin yang tepat terhadap seorang guru…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Dakwaan terhadap Ulama Islam Pasca-11 September Dibatalkan dengan Alasan Kebebasan Berbicara

Dakwaan terhadap Ulama Islam Pasca-11 September Dibatalkan dengan Alasan Kebebasan Berbicara

CAIR Menuntut Tindakan Disiplin Terhadap Guru di Oregon yang Memposting Pernyataan Anti-Muslim dan Anti-Imigran

CAIR Menuntut Tindakan Disiplin Terhadap Guru di Oregon yang Memposting Pernyataan Anti-Muslim dan Anti-Imigran

Coretan anti-Muslim di sekolah menengah Bethesda memicu ketakutan, kecaman, dan kecaman

Coretan anti-Muslim di sekolah menengah Bethesda memicu ketakutan, kecaman, dan kecaman

Apa Peran Malaikat Jibril Pada Saat Ini?

Apa Peran Malaikat Jibril Pada Saat Ini?

Pengertian Tafsir Ummatan Washatan dalam Al-Qur’an

Pengertian Tafsir Ummatan Washatan dalam Al-Qur’an

Salah Paham Makna Haji Akbar Untuk Umat Muslim

Salah Paham Makna Haji Akbar Untuk Umat Muslim